Consideration

Hei hei its me again.
Well im gonna continue my introduction.

Well, tahun ini saya akan menghadapi hidup yang benar benar baru bagi saya. Kuliah. Ya, saya sudah melewati masa sekolah dua belas tahun saya dan tahun ini saya telah berganti status dari single menjadi taken. Ga deng. Maksud saya dari siswa menjadi mahasiswa. Tak hanya itu, sampai tulisan ini dibuat, terhitung telah sekitar sebulan saya menjadi anak rantau. Alhamdulillah saya masih bertahan dan semoga akan tetap bertahan paling tidak sampai artikel ini selesai dibuat.
Dalam artikel ini saya akan membahasa tentang kampus tempat saya menuntu ilmu. Setelah berbagai macam perjuangan dan gejolak batin. Akhirnya saya memutuskan untuk menuntut ilmu di Kampus Ali Wadhana. Politeknik Keuangan Negara STAN. Keputusan ini memang bukanlah pilihan yang mudah bagi saya tapi saya akan berusaha untuk menjalani dan hidup dalam pilihan saya sendiri. Dengan kata lain, saya akan mensyukurinya dan akan berusaha untuk selalu menikamati hidup.

NOT AN EASY DECISION

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, yang sejak 2015 berubah nama menjadi Politeknik Keuangan Negara STAN, terletak di Jln. Bintaro Utama Sektor V, Kota Tangerang Selatan yang mana 780km jauhnya dari tempat tinggal saya, Surabaya. Dengan jarak yang melintasi empat provinsi tersebut, saya pikIr tak mungkin bagi saya untuk pulang pergi dari rumah ke kampus menggunakan sepeda motor seperti yang biasa saya lakukan saat masih SMA. Sehingga keadaan ini memaksa saya untuk menjadi seorang perantau. Itu berarti saya harus terpisah dari ibu, ayah, dan adik saya sejauh 780km paling tidak sampai saya menyelesaikan studi saya. Terakhir kali saya berada jauh dari orang tua saya adalah saat kelas 5 SD ketika saya diajak tetangga saya untuk berlibur ke Cirebon selama seminggu. Awalnya saya merasa senang, tapi saat kami menunggu taksi untuk ke stasiun, tak ada angin tak ada hujan bahkan tak ada yang berbicara, tiba-tiba air mata saya mengalir. Ada sesuatu yang mebuat hati saya perih saat melihat orang tua saya (saat itu saya melihat ayah saya) yang ikut menunggu taksi di depan rumah. Yang berada dalam pikiran saya saat itu adalah saya tak pernah sejauh ini dari orang tua saya, apa yang akan terjadi? Apakah mereka sedih berada jauh dari saya? Saya menyayangi mereka.

Saya bukanlah tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru. Dalam beberapa keadaan, tak mudah bagi saya untuk beradaptasi dan merasa nyaman di suatu tempat yang baru. Saya selalu merasa khawatir akan anggapan orang tentang saya, apa yang harus saya lakukan untuk berbaur, dan sebagainya. Namun seburuk apapun keadaan di luar sana, setidaknya saya masih punya rumah, zona nyaman saya, tempat saya bisa sepenuhnya menjadi diri saya, tempat saya bisa bernafas lega karena akhirnya saya punya waktu untuk tidak bertemu dengan orang-orang asing di luar sana. Tapi lain ceritanya jika saya adalah seorang perantau. Dimanapun saya berada, saya akan selalu bertemu dengan orang asing. Bahkan mungkin setiap harinya saya akan bertemu dengan orang baru. Di Bintaro, saya harus berbagi rumah dengan delapan perantau lain yang juga dari Surabaya, hal tersebut cukup membuat saya kepikiran. Dan setelah tahu bahwa saya harus berbagi kamar dengan seorang teman yang saat itu belum saya kenal, tak hentinya saya berdoa kepada Allah agar selalu memberikan kesabaran dan kekuatan terhadap saya dalam menghadapi segala cobaan.

Paragraf di atas merupakan kekhawatiran saya jika saya belum atau bahkan tak bisa akrab dengan orang baru dan suasana baru. Nah, di paragraf ini, yang saya khawatirkan adalah ketika saya sudah mulai akrab dengan orang-orang tersebut. Sebuah perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, juga kedinasan, sudah pasti menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari penjuru Nusantara dengan berbagai latar belakang dan kepribadian. Yang saya khawatirkan, dengan luputnya pengawasan orang tua, bagaimana jika saya salah memilih pergaulan? Bagaimana jika saya terjerumus dan hanyut dalam arus deras kehidupan sebagian remaja yang memuja hedonisme? Apalagi tempat saya tinggal tak jauh dari ibukota.

PKN STAN merupakan perguruan tinggi kedinasan yang berarti setiap lulusannya diwajibkan melakukan pengabdian terhadap negara. Dengan kata lain jika lulus, kami harus mengabdi sebagai PNS dengan penempatan yang tak pasti dimana. Bisa jadi kami ditempatkan di Sabang sambil berpatroli di Laut Andaman atau mungkin kami akan ditempatkan di perbatasan Indonesia-Malaysia dan hidup dalam rimba Kalimantan.

Dan masih terdapat keadaan-keadaan lain yang membuat saya berpikir berkali-kali untuk masuk PKN-STAN. But I’m here afterall, apa yang membuat saya akhhirnya memutuskan untuk kuliah di STAN padahal sejujurnya saya juga di terima di jurusan pilihan pertama saya di salah satu perguruan tinggi yang cukup ternama di Surabaya?

Apakah Anda ingin tahu jawabannya? Atau Anda bodo amat? Bagi yang ingin tahu, silakan baca postingan selanjutnya. Jika belum ada, mungkin saya memang belum bikin. Untuk saat ini, cukup sampai disini postingan hari ini. Tugas kuliah baru yang saya tunggu-tunggu sudah datang dari kemarin. Semoga kami cepat akrab. Terima kasih.


Nb: kata kunci untuk postingan saya yang selanjutnya adalah Ketahui Tujuanmu.

Komentar