New life, new people, for sure.


Kalau kalian merantau, ngga mungkin kan kalian ngajak-ngajak temen sekelas pas SMA, atau nyuruh tetangga kita buat jadi tetangga kita lagi di tempat baru kita, atau ngasih modal ke abang-abang tukang bakso langganan kita buat pindah lapak ke daerah rumah kita yang baru.

Yap, itulah yang saya alami saat ini

:v “ngalamin apa cuy?”
😊 “yaa, mengalami semua ketidakmungkinan untuk mengajak serta orang-orang yang kita kenal 
untuk ikut merantau Bersama kita”

Terus gimana dong kalau disana kita ketemu sama orang-orang yang ngga bener? Sekarang kan banyak kasus-kasus penipuan, pencurian, pelecehan, hingga penikungan kekasih yang tinggal nun jauh disana.

Cuy, maaf maksud saya, readers yang budiman, kalau pikiran negative senantiasa mengisi jaringan otak kita, saya khawatir kita tidak akan bisa selangkah lebih maju.

Allah menciptapkan dunia ini begitu luas dan begitu indahnya yang menunggu kita untuk terus di eksplor keberadaannya.

Disini, di tanah perantaun ini, saya bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam kepribadian. Kalau dari temen kos saya, ada yang cerewet, ada yang suka ketawa-ketawa sendiri, ada yang panikan, ada juga yang jarang mandi. Teman-teman sekelas saya juga macam-macam orangnya. Ada yang pendiam seperti saya, ada talkative, ada yang lucu kalo bercanda (ada yang ngga juga, (hehe becanda)), ada yang idenya banyak, ada yang murah senyum, dan banyak lagi. Its fun to find those kinds of things out.

Yang membuat seru adalah tantangan bagi kita tentang bagaimana kita menyikapi semua perbedaan yang hadir di depan mata kita. Hayoo mikir keras ya?

Well, memang hampir tak ada yang terlalu mudah dalam kehidupan ini. Namun, menurut saya, untuk tantangan ini, cobalah untuk tetap menjadi diri sendiri. Kita tak perlu berubah menjadi orang lain untuk berbaur dengan orang lain tersebut. Jika kita merubah diri kita sendiri hanya karena ingin mendapat pengakuan orang, akan ada berapa banyak sifat orang yang hidup dalam diri kita? Jika orang lain boleh memiliki kepribadian mereka sendiri, mengapa kita tidak?

Menurut tips dari pakde saya, beliau mengatakan, “Kamu boleh berkenalan dengan siapapun dan berteman dengan siapapun, asal jangan terlalu dekat dengan mereka agar kamu tidak mudah terbawa oleh arus mereka, kalau memang mereka bukanlah orang yang benar.”

Kecuali. Jika kita memang ingin memperbaiki diri menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya. Maka perubahan itu tentu saja diperlukan. Bergaullah dengan orang pilihan kalian yang kalian pikir dapat mempengaruhi kalian untuk menjadi lebih baik dan jangan lupa untuk selalu introspeksi diri. Siapkanlah hati seluas lautan agar kalian dapat belajar dari berbagai macam cobaan hidup yang Allah berikan bagi orang-orang yang ingin meluruskan jalan hidupnya agar ia bisa menjadi pribadi yang setingkat lebih baik.

Sebagai tambahan, agar kalian yakin terhadap diri kalian sendiri, tentukanlah tujuan hidup kalian, seperti yang telah saya tuliskan di postingan sebelumnya, pegang teguhlah prinsip hidup kalian yang kalian rasa yang terbaik untuk kalian, kemudian yakinlah pada Allah bahwa Dia akan selalu melindungi kita.

Tapi bagaimana kalau kita punya teman pengkhianat atau senang membicarakan kita di belakang kita, padahal kita selalu baik kepada mereka?


Jawabannya ada di postingan selanjutnya ya. Jika belum ada, doakan saja semoga segera ada.

Komentar