Kenapa Kalau Perempuan ke Toilet Harus Gandeng Temannya?



Wkwkwk, kenapa ya?
Saya sendiri pernah melalui fase ini. Yah, kemana mana harus gandeng temen, bahkan sekadar ke toilet, nanti di dalem toilet bisa ngaca bareng sambil bahas isu paling hangat di sekolah atau di kelas, kalau sempat ya sekalian berswafoto. Yang saya pahami, kami, para perempuan, melakukan ini agar kami tidak terlihat jomblo oleh teman teman perempuan kita yang lain. Sehingga kita terlihat seperti memiliki squad atau bff atau geng atau semacamnya yang diharapkan dapat meningkatkan status sosial kami sedikit lebih tinggi. Syukur syukur kalo geng kami merupakan salah satu geng berpengaruh di sekolah kami. Emang berpengaruh gimana? Yaaa entahlah bisa berbagai macam sih bentuknya. Bagus kalo pengaruhnya baik buat warga sekolah atau kampus, tapi kalo cuma sekadar modal tampang, uang, dan akun instagram??

Memasuki fase menjadi anak kuliahan, saya mulai belajar untuk meninggalkan kebiasaan tersebut. Mengapa? Karena sejujurnya saya pribadi merupakan orang yang agak lambat dan saya cukup terganggu dengan kata-kata, " ayo Nia, cepetan!" "Duh lama ya," "tak tinggal lo," dan akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan, "yaudah tinggal aja,". Dulu saya selalu berpikir keras, katanya bff? Katanya sahabat? Kok ngga sabaran banget sih nunggu temannya, padahal saya lamban bukan karena sengaja, tetapi entahlah, saya hanya butuh sedikit waktu lebih. Atau memang sayanya yang keterlaluan?

Dan kini saya mulai belajar untuk berdiri tegak dengan prinsip sebagai penopang saya, bukan lagi orang lain. Yah, kemana-mana sendiri, keliling kampus sendiri, ke perpustakaan sendiri, ke toilet juga sendiri. Seringkali ketika saya menghadiri sebuah acara dan datang sendirian, teman saya dari kelas lain bertanya, "kok sendirian?" "Temen kelasmu gaada yang ikut?" I was like, cuy, emang kenapa kalo gue sendirian? Kok keliatannya perihatin banget? Ngga kok, gue bukan korban bullying di kelas, gue juga bukan anti-social, gue cuma pingin sendiri cuy, enjoying myself. Bahkan ada salah satu teman saya yang rela ninggalin kumpulan temannya yang lain hanya untuk menemani saya yang sendirian, "Aku tak sama kamu aja ya, Ni, biar kamu ngga sendirian," saya pun hanya bisa tersenyum geli dan berterima kasih atas simpatinya. But really, Im fine.

Saat sedang sendirian, saya jadi lebih sering memperhatikan lingkungan sekitar saya, seperti karakteristik orang-orang yang lewat, makanan yang saya makan, tingkat kenyamanan tempat saya duduk, lapangan yang rumputnya tidak boleh diinjak tapi selalu dipakai untuk apel pagi, dan lain sebagainya. Dengan terfokusnya saya pada satu hal di sekitar saya, timbullah gagasan-gagasan yang entah datangnya dari mana, timbullah komentar-komentar yang bersahut-sahutan di kepala saya, dan timbullah pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya penasaran akan jawabannya. Menjadi seorang penyendiri di kampus membuat saya lebih banyak berpikir. Berpikir tentang lingkungan, kehidupan, pergaulan, dan berpikir tentang diri saya sendiri.

Berbeda dengan saat saya kemana-mana bergandengan dengan teman saya. Saat bersama teman, terkadang kita malah sibuk dengan pikiran masing-masing, seperti, bajuku udah kekinian belum ya? kira-kira menurut dia gimana ya? dia sadar ngga sih kalo bajuku ini merk favorit dia? gilaa, ini anak pinter banget dah kalo dandan, cantik bener, gue mah apa, keknya gue harus ngajauhin dia deh biar gak keliatan jelek-jelek amat, tar gue belajar dandan ah. Dan sebagainya, dan sebagainya... Bahkan untuk sekadar mengisi kesongan, saya seringkali mencari bahan obrolan mulai dari yang tidak penting sampai dengan yang sangat tidak penting hingga terjadilah ngomongin orang lain alias ghibah alias nyinyir alias gosip dan menghayal yang tidak tidak. Astaghfirullah.

Tapii.. bukan berarti saya anti-social yaa.. nonoo.. saya tetaplah seorang manusia biasa yang masih membutuhkan orang lain. Saya butuh menjalin hubungan dengan orang lain. Saya butuh berkomunikasi dengan orang lain. Saya juga masih butuh berkumpul dan bercanda dengan orang lain. Seperti yang sudah saya ceritakan di dua postingan saya sebelumnya, mengenal orang baru merupakan salah satu hal yang saya sukai, karena dengan mengenal orang baru saya berasa mendapat wangsit, ga deng, maksud saya pengetahuan baru, pengalaman baru bedasarkan hal-hal yang mereka ceritakan, terus apa yaa, pokoknya asik deh kalau bisa kenal sama banyak orang baru.

Hanya saja terkadang saya membutuhkan waktu untuk diri saya sendiri. Untuk merenungi apa saja yang sudah saya lakukan, untuk merenungi tentang yang benar dan yang salah, untuk memfokuskan diri terhadap suatu pekerjaan, sekaligus untuk lebih mensyukuri dan menikmati hidup.

Saya menulis ini bukan berarti saya yang paling benar. Saya menuliskan apa yang saya alami, apa yang saya rubah, dan apa yang saya pelajari. Semoga kita bisa mengambil apa baik dari tulisan ini karena yang baik datangnya dari dari Allah. Dan karena yang buruk datangnya dari saya sendiri, maka mohon maaf dan semoga bisa kita jadikan pelajaran.

Terima kasih

Komentar