Krisis Hutang di Eropa
Pada awalnya, di dunia, khususnya Eropa sering kali terjadi
peperangan. Dimana akibat dari terjadinya peperangan tersebut menyebabkan
kegiatan ekonomi berupa bisnis jual beli menjadi tidak begitu lancar
dikarenakan negara-negara di Eropa sendiri tidak mau saling bekerjasama satu
dengan yang lainnya dengan adanya trade barriers. Penyebab dari sulitnya kerjasama antara negara-negara di Eropa
disebabkan karena negara-negara di Eropa memiliki mata uang yang berbeda-beda (difference currencies) sehingga menyulitkan
negara-negara di Eropa untuk melakukan bisnis. Penyebab yang kedua, adanya
tarif(tariff) yang tinggi yang ditetapkan
oleh setiap negara di Eropa dalam melakukan kegiatan jual beli. Jadi,
dikarenakan adanya perbedaan nilai mata uang, tiap negara yang akan melakukan
jual beli harus membayar biaya untuk menukarkan mata uang (fees exchange currencies) serta tarif yang dikenakan oleh negara
tersebut.
Terjadinya perang dunia kedua mengakibatkan
Eropa menjadi hancur. Untuk membangun kembali dibutuhkan suatu kegiatan
perdagangan yang lebih intens antara negara-negara di Eropa. Oleh karena itu
negara negara di kawasan Eropa mulai mencoba untuk bekerjasama dengan menghancurkan
trade barriers sehingga tarif ekspor-impor menurun. Kebijakan ini memunculkan ide untuk
menyatukan Eropa agar tidak terjadi peperangan di masa yang akan datang. Maka dibentuklah
Uni-Eropa. Dengan adanya
Uni-Eropa, hilanglah trade barriers diantara negara-negara di Eropa sehingga biaya bisnis atau perdagangan menjadi lebih murah.
Namun, Uni-Eropa masih memiliki
satu hambatan besar dalam kegiatan ekonominya, yakni nilai mata uang yang berbeda di setiap negara. Untuk menjawab masalah
ini dikeluarkanlah mata uang Euro pada tanggal 1 Januari 1999 yang diberlakukan
di negara kawasan Uni Eropa. Penyatuan nilai mata
uang di Eropa diikuti dengan penyatuan kebijakan moneter (monetary policy) yang dilaksanakan oleh European Central
Bank atau ECB. Walaupun telah menyatukan kebijakan moneter, tiap
negara Uni-Eropa tetap memiliki kebijakan
fiskal(fiscal policy) yang berbeda.
Kebijakan moneter mengatur mengenai suplai uang dan menentukan suku bunga
pinjaman. Sedangkan kebijakan fiskal mengontrol banyaknya pajak yang ditarik dalam suatu negara
serta seberapa banyak pengeluarannya. Apabila penerimaan kurang, negara
melakukan pengeluaran menggunakan utang (deficit
spending).
Sebelum masuk Eurozone, beberapa negara di
Eropa, dikenai suku bunga(interest rate)
yang cukup tinggi sehingga mereka meminjam uang dengan jumlah yang tidak
terlalu banyak. Setelah masuk ke eurozone, mereka dikenai suku bunga yang
rendah sehingga mereka dapat meminjam uang lebih banyak. Hal tersebut
merupakan keuntungan tersendiri bagi beberapa negara kecil di Eropa seperti
Yunani. Dengan masuknya Yunani dalam Uni-Eropa, ia memiliki ikatan dengan
negara-negara yang memiliki kemampuan ekonomi yang lebih kuat seperti Jerman
dan Prancis sehingga IMF atau Lembaga pemberi pinjaman lain bersedia memberikan
pinjaman dengan suku bunga rendah, yang sebelumnya 18% menjadi 3%. Namun sayangnya, Yunani tak dapat mengontrol
keringanan ini dan terus melakukan hutang dalam jumlah besar yang pada akhirnya
hanya dihabiskan untuk hal-hal yang kurang produktif. Hal ini mengakibatkan
ketidakseimbangan dalam kebijakan fiskal dalam negara tersebut dimana sebagian besar pendapatan negara
berasal dari hutang.
Terjadinya
kegagalan kredit perumahan di AS yang menyebabkan resesi internasional pada 2008,
berdampak pada kemacetan kredit di seluruh dunia, termasuk di kawasan Eropa.
Beberapa negara kecil di kawasan eropa telah terbiasa dengan spending spree dimana mereka meminjam
uang lebih banyak dari yang mereka mampu bayarkan. Ketika resesi internasional
melanda Eropa, negara-negara kecil ini sudah kehabisan uang karena mereka tak
dapat lagi melakukan kredit atau pinjaman uang untuk membiayai pengeluaran
mereka. Disisi lain, mereka juga harus mencicil pembayaran hutang mereka yang
terdahulu. Jika hutang-hutang tersebut tak segera dibayarkan, maka akan
menambah penderitaan bagi negara-negara tersebut. Satu-satunya negara yang
dapat diandalkan untuk membantu negara-negara kecil tersebut melunasi
hutang-hutangnya di tengah krisis yang melanda ialah negara dengan perekonomian
terbesar dan terkuat di Eropa, Jerman.
Jerman sebenarnya ragu untuk mem-bailout atau memberi jaminan terhadap
negara-negara yang notabene ‘kawan’ satu organisasinya tersebut. Untuk menjamin
agar tak lagi terjadi penumpukan hutang setelah di bailout, maka Jerman memberikan tawaran
bahwa ia bersedia mem-bailout negara-negara terhutang tersebut hanya jika mereka
mau menerapkan austerity measures. Austerity measures merupakan suatu upaya
untuk memangkas pengeluaran pemerintah, mengurangi penerimaan hutang, dan
meningkatkan pengeluaran untuk pembiayaan hutang. Kebijakan ini mungkin
terdengar sederhana bagi Jerman, namun tidak bagi negara-negara yang harus
melakukannya. Bagi negara-negara terhutang tersebut, pemangkasan pengeluaran
pemerintah yang diperparah dengan pengurangan penerimaan hutang, dapat
membatasi pelayanan fasilitas public dan
mengurangi pendapatan rakyatnya hingga memaksa dilakukannya PHK besar-besaran
oleh beberapa perusahaan. Hal ini dapat memicu terjadinya kerusuhan dan
pemberontakan dalam negara tersebut. Selain itu, dengan berkurangnya pendapatan
rakyat, maka penerimaan pajak pun juga makin berkurang dan akan semakin sulit
bagi mereka untuk melunasi hutang-hutang mereka.
Perbedaan pandangan mengenai austerity measures ini juga dipicu oleh
perbedaan kebudayaan diantara beberapa negara di kawasan Uni-Eropa. Meskipun
uni-Eropa merupakan persekutuan negara-negara yang berada dalam satu wilayah,
nyatanya beberapa negara dalam persekutuan tersebut memiliki perbedaan
kebudayaan yang cukup kontras. Jerman dan Yunani misalnya. Rakyat dan
pemerintahan Jerman dikenal sangat bertanggungjawab secara finansial, mereka
senantiasa berhati-hati dalam hal pengeluaran dan pengelolaan hutang. Selain
pekerja keras, rakyat Jerman juga rajin membayar pajak. Lain halnya dengan
Yunani. Rakyat Yunani dikenal sangat dimanjakan oleh berbagai keringanan dan
subsidi yang diberikan oleh negaranya. Usia pensiun di Yunani jauh lebih muda
daripada mereka yang berada di Jerman dan uang pensiunan yang lebih tinggi daripada Jerman. Walaupun begitu,
rakyat Yunani masih enggan untuk membayar pajak, termasuk mereka yang berada
dalam jajaran orang-orang kaya di Yunani. Selain itu, pemerintahan Yunani tak
dapat mengontrol pengeluaran dan hutang negara tersebut hingga terjadi penumpukan
hutang hingga 170% dari GDP yang
mereka sendiri tak tahu bagaimana cara membayarnya. Jika negara-negara
terhutang ini tak segera dibantu dan dicarikan penyelesaiannya, maka
kemungkinan besar mereka akan menghadapi kebangkrutan. Masalahnya, negara-negara
dalam Uni-Eropa saling terikat dalam satu sistem moneter. Sehingga jika salah
satu negara di Uni-Eropa mengalami kebangkrutan, maka hal tersebut juga akan
mengakibatkan kebangkrutan negara-negara lainnya dalam Uni-Eropa bahkan
berdampak pula bagi seluruh negara di dunia. Hal inilah yang disebut dengan chain reaction of default atau reaksi
kebangkrutan berantai.
Meskipun negara-negara terhutang tersebut
berhasil menerapkan austerity measures,
tak ada yang menjamin bahwa krisis hutang ini tak akan lagi terjadi di
Eurozone. Untuk menjawab permasalahan ini, terdapat dua opsi solusi. Yang
pertama, fiscal union. Yakni upaya
untuk mendirikan suatu Lembaga atau organisasi yang dapat disetarakan dengan monetary union yang telah dibentuk
sebelumnya (yakni European Central Bank).
Fiscal union ini dimaksudkan agar
terdapat satu lembaga atau organisasi yang menjadi suatu kekuatan yang memiliki
wewenang untuk mengatur kebijakan fiscal di seluruh negara Uni-Eropa. Sehingga
mereka dapat memangkas pengeluaran maupun menaikkan tarif pajak untuk mencegah kelebihan hutang dan
pengeluaran dalam suatu negara. Namun, jika fiscal union ini dilaksanakan,
artinya negara-negera Eurozone ini bersedia untuk menyerahkan kedaulatan mereka dalam mengatur keuangan
negaranya pada satu kekuatan tersebut. Namun jika tidak dilakukan, krisis
hutang akan terjadi lagi, atau, opsi kedua, mereka dapat membubarkan monetary union yang berarti tak ada lagi
mata uang Euro dan tak ada lagi Eurozone. Kita doakan saja semoga
Uni-Eropa dapat menemukan pemecahan masalah terbaik bagi para anggotanya.
sumber : https://www.youtube.com/watch?v=52_wAgLurH4&t=550s
Komentar
Posting Komentar