Pandangan Pribadi Mengenai Peristiwa G30S/PKI

Peristiwa G30S/PKI merupakan peristiwa yang dilandasi oleh keserakahan, kekecewaan, pengkhianatan, dendam, dan intoleransi. Keserakahan disini ditunjukkan dari timbulmya inisiatif dari Bung Karno, atas saran PKI, untuk membentuk “angkatan kelima” yang berdiri sendiri dan terlepas dari ABRI. Angkatan Kelima adalah unsur pertahanan keamanan Republik Indonesia yang merupakan gagasan Partai Komunis Indonesia PKI. Angkatan Kelima ini diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai. Tentu saja para petinggi Angkatan Darat tidak menyetujui hal ini. Menurut mereka, pembentukan angkatan kelima ini dapat menimbulkan nuansa kecurigaan atara militer dan PKI. Jika dipikir-pikir lagi jika sebuah negara telah memiliki angkatan bersenjata yang terlatih untuk melindungi teritorialnya dan juga memiliki angkatan kepolisian untuk mengayomi masyarakatnya, lalu mengapa buruh dan petani, yang notabene mayoritas dari mereka merupakan anggota PKI, masih perlu dipersenjatai? Tidakkah ada kekhawatiran akan terjadinya konflik internal di masa yang akan datang? Atau memang itukah tujuannya?

Perbedaan pandangan antara PKI dan kalangan militer inilah yang memicu timbulnya gesekan antara keduanya. Gesekan ini semakin memana manakala PKI dengan resmi memasuki pemerintahan yang berarati mereka harus bersandingan dengan jenderal-jenderal militer tingkat tinggi yang juga menjadi anggota kabinet. Dalam pemerintahan, Menteri-menteri PKI terus mendorong ilusi berbahaya bahwa angkatan bersenjata merupakan bagian dari revolusi demokratis “rakyat”.

Kemudian kekecewaan dalam peristiwa ini saya arahkan kepada bapak pendiri bangsa ini, Bung Karno. Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Soekarno, membawa lambang negara Garuda Pancasila ke hadapan Tunku Abdul Rahman—Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. Karena itulah beliau ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan  yang terkenal dengan sebutan “Ganyang Malaysia” kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia. Sayangnya, berdasarkan sejarah, Posisi Angkatan Darat pada saat itu serba salah karena di satu pihak mereka tidak yakin mereka dapat mengalahkan Inggris, dan di lain pihak mereka akan menghadapi Soekarno yang mengamuk jika mereka tidak berperang. Akhirnya para pemimpin Angkatan Darat memilih untuk berperang setengah hati di Kalimantan. Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang. Hal ini juga dapat dilihat dari kegagalan operasi gerilya di Malaysia, padahal tentara Indonesia sebenarnya sangat mahir dalam peperangan gerilya.

Mengetahui bahwa tentara Indonesia tidak mendukungnya, tentu saja Sukarno merasa kecewa dan pada akhirnya berbalik mencari dukungan PKI untuk melampiaskan amarahnya kepada Malaysia. Soekarno, seperti yang ditulis di otobiografinya, mengakui bahwa ia adalah seorang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah keinginannya untuk “Mengganyang Malaysia". PKI dalam hal ini menjadi pendukung terbesar gerakan “Ganyang Malaysia”. Tak hanya itu, PKI juga memanfaatkan kesempatan ini untuk kepentingan mereka sendiri. Posisi PKI semakin menguat sebagai suatu ancaman bagi penentangnya, ditambah lagi dengan hubungan PKI dengan Partai Komunis sedunia.

Sukarno sebenarnya juga telah mengetahui kelicikan PKI, namun karena beliau masih membutuhkan kekuatan PKI untuk konfrontasi yang sedang berlangsung, beliau memutuskan untuk mendiamkannya. Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu ‘giliran’ PKI akan tiba. Sukarno berkata, "Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu. ... Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu saat saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang."

Saya juga tak habis pikir akan sikap petinggi militer, pada khususnya di sini Angkatan Darat, yang takut kepada Malaysia dengan alasan bahwa Malaysia memiliki Inggris sebagai back up mereka. Apakah ketakutan akan kekalahan lebih besar daripada pengorbanan untuk membela harga diri bangsa yang telah diinjak-injak oleh Malaysia? Saya dapat memahami kekecewaan Bung Karno dalam hal ini. Dan keputusan beliau untuk mengambil PKI sebagai aliansi, mungkin itu merupakan keputusan yang berat yang terpaksa dilakukan oleh Bung Karno karena fokus terbesarnya pada saat itu hanyalah ingin membela harga diri bangsanya, bangsa yang dengan susah payah ia perjuangkan kemerdekaannya.

Kekecewaan tersebut ternyata juga dirasakan oleh para tantara yang kebanyakan berasal dari Divisi Diponegoro, yang menganggap bahwa para petinggi militer telah berkhianat terhadap misi yang diberikan oleh Sukarno. Mereka akhirnya memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang PKI untuk membersihkan tubuh Angkatan Darat dari para jenderal ini. dan disinilah bau penghianatan mulai tercium.

Pada 1 Oktober 1965 dini hari, enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana (Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan tersebut.

Namun di sisi lain, muncul isu bahwa terdapat Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Sukarno yang berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno disebut-sebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, dan Harjono.

Akibat dari peristiwa tersebut, muncullah dendam. Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim sayap-kanan seperti barisan Ansor NU dan Tameng Marhaenis PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Semua partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja dan petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi.

Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka, majalah "Time" memberitakan:

"Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatera Utara, di mana udara yang lembap membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat. Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius."

Berapa jumlah orang yang dibantai tidak diketahui dengan persis - perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juta orang. Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Di daerah-daerah lain, para terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka. Di kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis "anti-Tionghoa" terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat.

Dari sini dapat kita pelajari betapa keserakahan dan dendam telah menggerus rasa kemanusiaan yang harusnya ada dalam hati manusia-manusia Indonesia pada saat itu. Entah siapa yang benar dan siapa yang salah, tapi yang saya lihat, kedua golongan, baik anggota PKI maupun non PKI, sama-sama salah, tidak berperikemanusiaan. Dimanakah letak iman dan takwa orang-orang ini? tak malukah mereka akan kesaksian Tuhan Yang Maha Esa atas perbuatan mereka itu? Apakah hak mereka untuk menyiksa dan membunuh orang lain secara membabi buta ? Padahal belum tentu orang tersebut mengerti apa yang tengah terjadi.

Agar peristiwa ini tak terjadi lagi di masa yang akan datang, sudah seharusnya kita, rakyakt Indonesia, sebagai komunitas yang wajib beragama, meningkatkan iman dan takwa kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Saya yakin tak ada satupun agama di dunia ini yang mengamini pembunuhan yang membabi buta. Bahkan dalam Islam, membunuh seseorang tanpa alasan yang syar’I, dosa sama dengan membunuh seluruh umat manusia. selain itu, junjunglah tinggi semangat persatuan di negeri ini. Indoensia merupakan negara yang majemuk yang masyarakatnya terdiri dari barbagai suku, budaya, Bahasa, dan agama. Jika kita masih mempermasalahkan perbedaan yang ada, maka tak akan ada habisnya konflik di negeri ini. Dalam rangka memfasilitasi rasa persatuan ini, ada baiknya jika kita belajar untuk bermusyawarah dan saling tukar pendapat dalam pengambilan suatu keputusan yang pengaruhnya akan dirasakan oleh banyak orang. Tenangkanlah diri dahulu sebelum memutuskan sesuatu. Keputusan yang diambil dalam keadaan emosi atau marah bukanlah keputusan yang baik. Dan tentu saja, jangan meletakkan kepentingan diri sendiri atau golongan diatas kepentingan Bersama. Jika semua hal diatas telah dilaksanakan denan baik oleh rakyat Indonesia, maka InshaAllah, akan lahir kesejahteraan rakyat Indonesia yang merata.

Komentar