Sebuah Perubahan Dimulai Dari Diri Sendiri

Surabaya merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Sebagai sebuah kota kota besar yang juga merupakan ibukota provinsi Jawa Timur, Surabaya tentu memiliki serentetan aktivitas industri dengan berbagai hiruk pikuk warga kotanya. Karena padatnya aktivitas di kota pahlawan inilah tentu Surabaya tak lepas dari masalah lingkungan. Sesungguhnya walikota Surabaya, Tri Rismaharini, beserta para stafnya, telah melakukan berbagai cara untuk melakukan peremajaan lingkungan kota Surabaya. Hasilnya pun dapat kita lihat, Surabaya kini semakin hijau dengan pembangunan taman-taman kota yang semakin digalakkan. Ditambah lagi dengan adanya kompetisi kampung bersih dan hijau yang cukup disambut baik oleh masyarakat.

Namun sayangnya, semua upaya tersebut hanya berlaku secara teknis saja. Maksudnya, semua perbaikan itu, semua peremajaan itu, tidak akan berlangsung lama jika masyarakat Surabaya sendiri masih belum memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan. Kesadaran akan kebersihan lingkungan dapat dituangkan dengan berbagai cara. Salah satu tindakan paling sederhana mendasar dari kesadaran ini ialah membuang sampah pada tempatnya.

Umumnya warga melakukan semua perlombaan kebersihan itu hanya untuk ritual , formalitas, maupun gengsi semata. Mereka ikut lomba hanya untuk menang. Setelah menang, yasudah. Nanti kalau ada lomba lagi ya diperbaharui lagi kampungnya, dibersihkan lagi, dan begitu seterusnya. Bahkan kalangan terpelajar sendiri, yang notabene "berpendidikan" yang artinya mereka pasti memiliki lebih banyak pengetahuan, juga belum memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan. Masih banyak dari kalangan pelajar yang saya temui seringkali membuang sampah di jalan raya, trotoar, bahkan masjid sekolah. Jika pelajar saja yang pemikirannya masih segar, sudah bisa menganalisis akan dampak dari membuang sampah sembarangan masih belum memiliki kesadaran tersebut, bagaimana dengan masyarakat awam?

Kesadaran masyarakat sangat berpengaruh terhadap perbaikan lingkungan sebuah kota dalam jangka panjang. Kita bisa ambil contoh kota Kitakyushu di Jepang. Kota Kitakyushu dahulunya merupakan kota yang paling terpolusi, bahkan air sungai kota tersebut berwarna violet karena saking parahnya pencemaran saat itu. Namun dalam 30 tahun, kota Kitakyushu menjelma menjadi kota terbersih dan ramah lingkungan. Apa yang menyebabkan kota Kitakyushu dapat bangkit dari pencemaran lingkungan? Faktor utamanya ialah kesadaran masyarakatnya. Masyarakat kota Kitakyushu berbondong-bondong saling bekerjasama untuk memperbaiki kondisi lingkungan mereka karena mereka khawatir akan kelangsungan kehidupan anak mereka apabila terus tumbuh berdampingan dengan polusi yang menyelimuti kota di negeri sakura tersebut. Pemerintah bahkan tidak perlu repot-repot menghabiskan waktu dan tenaga untuk membuat hukum  maupun ancaman jika masyarakat tidak ikut berpartisipasi dalam perbaikan lingkungan kota karena masyarakat sendiri telah memiliki kesadaran. Dan akhirnya, jadilah kota Kitakyushu seperti saat ini yang sangat dielu-elukan sebagai kota terbersih dan ramah lingkungan. Mereka bahkan memiliki museum lingkungan yang menceritakan tentang sejarah kondisi lingkungan mereka dahulu, upaya mereka dalam perbaikan, hingga keberhasilan mereka seperti saat ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Bagaimana dengan Surabaya? Saya paham sangat susah untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya. Bahkan walaupun mereka tahu sendiri bahwa banjir yang seringkali mereka hadapi di musim hujan disebabkan oleh sampah-sampah yang mereka buang di sungai, bukan karena pemerintah yang tak rutin membersihkan sampah-sampah yang membentuk gugusan pulau, mereka tetap tak peduli. Mungkin mereka berprasangka bahwa sampah yang mereka buang di jalan-jalan, di sungai, bahkan di masjid hanyalah sebungkus permen, dan pasti akan hilang tertiup angin, sudah hanyut, atau mungkin mereka berpikir bahwa akan ada pintu gaib yang menyedot sampah-sampah kecil tersebut ke dunia lain. Sehingga tak akan menjadi masalah, tak akan ada air bah yang tiba-tiba menerjang hanya karena bungkus permen yang tergeletak di jalan. Kebanyakan masyarakat terlalu menyepelekan hal yang terlihat kecil tersebut. Namun mereka kurang memikir dampaknya yang akan terjadi dalam jangka panjang. Mereka kurang menyadari berapa banyak orang yang tinggal di Surabaya dan berapa banyak orang yang akan membuang bungkus permen di sembarang tempat.

Saya belum tahu bagaimana strategi jitu untuk menyadarkan masyarakat akan penting membuang sampah pada tempatnya. Namun saya pikir sosialisasi secara rutin merupakan cara terbaik. Ingatkan teman maupun saudara apabila mereka masih membuang sampah sembarangan. Beri contoh dan ajari anak kecil untuk membuang sampah pada tempatnya. Semua perubahan pasti memerlukan proses. Apalagi hal ini terkait dengan pendobrakan sebuah kebiasaan yang membudaya, budaya membuang sampah sembarangan.

Sebuah perubahan dimulai dari diri sendiri. Perjalanan seribu langkah dimulai dari satu langkah kecil.


Komentar