Takut
Agama
saya mengajarkan saya untuk senantiasa hidup sederhana. Membeli barang-barang
yang diperlukan dan tidak berlebihan. Selain itu kita juga harus berbagi dengan
orang lain, khususnya mereka yang kurang mampu karena pada dasarnya sebagian
harta yang kita miliki adalah hak mereka.
Rasulullah, yang merupakan utusan Allah, manusia yang dijamin masuk surga oleh Allah pun semasa hidupnya tak pernah tidur di kasur yang empuk. Beliau bahkan pernah puasa karena memang sedang tak ada bahan makanan di rumahnya. Lalu siapalah saya?
Di zaman yang serba mudah ini saya takut mengubah gaya hidup saya. Sekarang kita tak perlu keluar rumah untuk sekedar membeli makanan. Tak perlu keluar rumah untuk membeli tas, sepatu, dan segala macam kebutuhan. Semua bisa dengan mudah kita dapatkan hanya dengan modal ponsel pintar dan koneksi internet dan tentunya uang cash atau dalam rekening.
Saya bersyukur kedua orangtua saya senantiasa berusaha mencukupi kehidupan saya dan adik saya. Mereka selalu berusaha menyediakan fasilitas yang nyaman bagi kami. Orang tua saya juga selalu memperhatikan uang saku saya yang merupakan anak rantau, tak jarang mereka memberi uang saku lebih. Terkadang saya takut saya menyalahgunakan kepercayaan kedua orang saya. Saya merasa, semakin banyak fasilitas yang saya dapat dari orang tua saya, tanggung jawab saya pun semakin besar. Iyalah. Mereka ingin saya bisa belajar dengan nyaman dan dnegan baik sehingga bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Maka untuk menahan diri saya agar tidak menjadi pribadi yang konsumtif, saya senaniasa berdoa kepada Allah untuk menguatkan iman saya agar saya tidak diperbudak oleh nafsu saya. Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa orang tua saya memberi saya uang saku yang didapat dari kerja keras, bukan dari metik di pohon depan rumah. Selain itu saya juga mengingatkan diri saya bahwa masih banyak saudara saudara saya di luar sana yang mungkin sudah lupa rasa nasi, tak memiliki rumah yang layak untuk bernaung dai panas dan hujan, dan hidup dalam berbagai tekanan. Tak sampai hati saya menghambur-hamburkan uang demi gengsi dan membuang-buang makanan hanya karena saya tidak suka.
Rasulullah, yang merupakan utusan Allah, manusia yang dijamin masuk surga oleh Allah pun semasa hidupnya tak pernah tidur di kasur yang empuk. Beliau bahkan pernah puasa karena memang sedang tak ada bahan makanan di rumahnya. Lalu siapalah saya?
Di zaman yang serba mudah ini saya takut mengubah gaya hidup saya. Sekarang kita tak perlu keluar rumah untuk sekedar membeli makanan. Tak perlu keluar rumah untuk membeli tas, sepatu, dan segala macam kebutuhan. Semua bisa dengan mudah kita dapatkan hanya dengan modal ponsel pintar dan koneksi internet dan tentunya uang cash atau dalam rekening.
Saya bersyukur kedua orangtua saya senantiasa berusaha mencukupi kehidupan saya dan adik saya. Mereka selalu berusaha menyediakan fasilitas yang nyaman bagi kami. Orang tua saya juga selalu memperhatikan uang saku saya yang merupakan anak rantau, tak jarang mereka memberi uang saku lebih. Terkadang saya takut saya menyalahgunakan kepercayaan kedua orang saya. Saya merasa, semakin banyak fasilitas yang saya dapat dari orang tua saya, tanggung jawab saya pun semakin besar. Iyalah. Mereka ingin saya bisa belajar dengan nyaman dan dnegan baik sehingga bisa menjadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.
Maka untuk menahan diri saya agar tidak menjadi pribadi yang konsumtif, saya senaniasa berdoa kepada Allah untuk menguatkan iman saya agar saya tidak diperbudak oleh nafsu saya. Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa orang tua saya memberi saya uang saku yang didapat dari kerja keras, bukan dari metik di pohon depan rumah. Selain itu saya juga mengingatkan diri saya bahwa masih banyak saudara saudara saya di luar sana yang mungkin sudah lupa rasa nasi, tak memiliki rumah yang layak untuk bernaung dai panas dan hujan, dan hidup dalam berbagai tekanan. Tak sampai hati saya menghambur-hamburkan uang demi gengsi dan membuang-buang makanan hanya karena saya tidak suka.
Komentar
Posting Komentar