Yang Tak Kita Ketahui
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)
Kutipan salah satu ayat al quran itu pernah terjadi dalam hidup saya. Yah, dulu saya bingung mau masuk sma mana. saya mau pilih salah satu sma terbaik di kota saya, yaitu sma x, tapi saya ragu kalau saya tidak cocok dengan gaya pergaulan disana yang katanya tempat anak anak pinter dan mayoritas borjuis. Tapi orang tua saya ingin saya masuk sana, jadilah saya taruh sma tersebut di pilihan pertama saya. Untuk pilihan kedua, yang juga pilihan terakhir, awalnya saya memilih sma z, yang 2-3 level di bawah sma x. Saya pilih sma z karena saya pikir bangunan sma tersebut bagus dan murid-murid yang di terima disana berasal dari latar belakang yabg beragam sehingga mungkin akan mudah bagi saya untuk beradaptasi disana. Tapi ayah saya tidak menyukainya. Beliau ingin saya menginput sma y sebagai pilihan kedua, sma yang satu level dibawah sma x. Entahlah. Sma y tidak terlalu saya pertimbangkan untuk saya pilih. Selain model pergaulannya yang katanya ngga jauh beda dari sma x, saya juga tidak menyukai gerbang utama sekolah tersebut yang terlihat tak terawat. Pokoknya saya lebih ragu untuk sekolah disana dibanding dengan sma x. Namun pada akhirnya saya pun menuruti permintaan ayah saya. Dalam hati saya hanya berdoa pada Allah bahwa dimanapun saya bersekolah nanti semoga itu yang terbaik untuk saya, kehidupan saya, dan masa depan saya. Jadi sejak awal saya sudah menetralkan hati saya agar tidak condong kepada salah satu pilihan.
Tes untuk masuk sma telah saya lalui. Entahlah. Saya merasa tidak mengerjakannya dengan maksimal. Saya sempat pesimis dan berencana mendaftar ke sma yang gradenya lebih rendah.
Saat pengumuman pun tiba. Hasilnya saya diterima di pilihan ke dua. Karena dari awal saya sudah menetralkan hati saya, saya pun tidak terlalu sedih dan tidak pula terlalu senang. Intinya biasa saja. Yang saya sedihkan adalah saya tidak bisa memenuhi harapan orang tua saya untuk diterima di pilihan pertama.
Alhamdulillah doa saya sebelum masuk sma didengar oleh Allah. Sma y adalah sma yang terbaik untuk saya. Saya belajar banyak hal, saya bertemu dengan teman teman yang menyenangkan, lingkungan yang kondusif, bahkan saya mengukir prestasi disini, tidak seberapa sih, tapi lumayanlah. Betapa saya sangat bersyukur bersekolah di sma y. Belum tentu saya akan mendapat hal yang sama jika saya bersekolah di sma lain. Sampai sekarang pun saya masih merasa bangga dan bersyukur atas karunia Allah yang pernah dilimpahkan pada saya itu.
Hikmahnya, janganlah kita merasa sangat membenci sesuatu ataupun sangat menyukai sesuatu. Karena yang kita sukai belum tentu dapat memberi keberkahan pada kita. Begitu juga sebaliknya, yang kita benci belum tentu buruk bagi kita, bahkan bisa jadi menyimpan manfaat yang baik bagi kita.
Kutipan salah satu ayat al quran itu pernah terjadi dalam hidup saya. Yah, dulu saya bingung mau masuk sma mana. saya mau pilih salah satu sma terbaik di kota saya, yaitu sma x, tapi saya ragu kalau saya tidak cocok dengan gaya pergaulan disana yang katanya tempat anak anak pinter dan mayoritas borjuis. Tapi orang tua saya ingin saya masuk sana, jadilah saya taruh sma tersebut di pilihan pertama saya. Untuk pilihan kedua, yang juga pilihan terakhir, awalnya saya memilih sma z, yang 2-3 level di bawah sma x. Saya pilih sma z karena saya pikir bangunan sma tersebut bagus dan murid-murid yang di terima disana berasal dari latar belakang yabg beragam sehingga mungkin akan mudah bagi saya untuk beradaptasi disana. Tapi ayah saya tidak menyukainya. Beliau ingin saya menginput sma y sebagai pilihan kedua, sma yang satu level dibawah sma x. Entahlah. Sma y tidak terlalu saya pertimbangkan untuk saya pilih. Selain model pergaulannya yang katanya ngga jauh beda dari sma x, saya juga tidak menyukai gerbang utama sekolah tersebut yang terlihat tak terawat. Pokoknya saya lebih ragu untuk sekolah disana dibanding dengan sma x. Namun pada akhirnya saya pun menuruti permintaan ayah saya. Dalam hati saya hanya berdoa pada Allah bahwa dimanapun saya bersekolah nanti semoga itu yang terbaik untuk saya, kehidupan saya, dan masa depan saya. Jadi sejak awal saya sudah menetralkan hati saya agar tidak condong kepada salah satu pilihan.
Tes untuk masuk sma telah saya lalui. Entahlah. Saya merasa tidak mengerjakannya dengan maksimal. Saya sempat pesimis dan berencana mendaftar ke sma yang gradenya lebih rendah.
Saat pengumuman pun tiba. Hasilnya saya diterima di pilihan ke dua. Karena dari awal saya sudah menetralkan hati saya, saya pun tidak terlalu sedih dan tidak pula terlalu senang. Intinya biasa saja. Yang saya sedihkan adalah saya tidak bisa memenuhi harapan orang tua saya untuk diterima di pilihan pertama.
Alhamdulillah doa saya sebelum masuk sma didengar oleh Allah. Sma y adalah sma yang terbaik untuk saya. Saya belajar banyak hal, saya bertemu dengan teman teman yang menyenangkan, lingkungan yang kondusif, bahkan saya mengukir prestasi disini, tidak seberapa sih, tapi lumayanlah. Betapa saya sangat bersyukur bersekolah di sma y. Belum tentu saya akan mendapat hal yang sama jika saya bersekolah di sma lain. Sampai sekarang pun saya masih merasa bangga dan bersyukur atas karunia Allah yang pernah dilimpahkan pada saya itu.
Hikmahnya, janganlah kita merasa sangat membenci sesuatu ataupun sangat menyukai sesuatu. Karena yang kita sukai belum tentu dapat memberi keberkahan pada kita. Begitu juga sebaliknya, yang kita benci belum tentu buruk bagi kita, bahkan bisa jadi menyimpan manfaat yang baik bagi kita.
Komentar
Posting Komentar