KONSPIRASI DI BALIK JURI YANG MENGUSIR PESERTA AUDISI
Halo.
Barusan saya liat di yutub tentang kasus juri usir peserta audisi ajang
pencarian bakat bernyanyi. I’ve heard from several perspectives about this case,
salah satunya dari seorang penyanyi profesional yang juga jebolan dari salah
satu ajang pencarian bakat dan dari juri itu sendiri. Jangan tanya lah ya kalo
dari perspektif (kebanyakan)netizen. Udah bisa ditebak gimana reaksinya, buktinya
bisa sampe viral dan sampe saya tau (sok iye lu).
Oke jadi saya pertama kali tau kasus ini—kalo bisa dibilang kasus—dari Instagram, gatau akun apa, saya lupa. Di video tersebut di kasih headline kurang lebih kek “ Peserta Ini Diusir Oleh Juri Karena Tidak Memakai Make Up Saat Hendak Audisi”. Di dalam video tersebut ditayangkan seorang gadis remaja usia belasan tahun yang masuk ruangan audisi dengan dandanan yang seadanya—kaos yang dilapisi jaket denim sebagai atasan, bawahan celana denim, rambut kuncir kuda dengan sebagian kecil helaian rambutnya tetap menjuntai bebas karena tidak dapat meraih karet kuncirnya, dan tanpa riasan muka sama sekali. Gadis itu mengaku berasal dari sebuah desa dan ketika ditanya oleh juri mengenai alasan dia tidak melakukan ‘usaha’ terhadap penampilannya seperti peserta audisi lain—kata sang juri—gadis itu mengatakan bahwa bajunya tertinggal di desa. Dengan nada yang kurang mengenakkan, juri lain menimpali dengan mempertanyakan keseriusan gadis ini untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat tersebut. Akhirnya, juri yang lainnya lagi memutuskan agar audisi si gadis ditunda hingga ia mengganti penampilannya. Kamera pun menyorot wajah kecewa si gadis—which I understand how it felt to be threaten that way. Sebelum video berakhir, si pemandu acara datang menghampiri si gadis dengan bahasa tubuh ‘seolah-olah’ menenangkan si gadis dan video pun berakhir.
Setelah melihat video berdurasi kurang lebih satu menit tersebut, terdapat beberapa hal yang muncul dalam benak saya. Yang pertama, “wew, nih juri sadis juga”. Yang kedua, para juri tersebut merupakan penyanyi professional yang cukup terkenal di Indonesia, bahkan mungkin sangat terkenal, yang sudah lama merajut karir bernyanyi di negeri kita tercinta ini sehingga saya kira mereka cukup pintar untuk tidak serta merta ‘bermaksud’ melakukan hal konyol seperti dalam video tersebut, apalagi di sebuah acara yang ditayangkan di saluran teve nasional. Dan yang terakhir, Video tersebut berdurasi tak lebih dari satu menit, (setau saya maksimal video yang bisa diunggah di di instagram hanya satu menit) apakah satu menit cukup untuk menjelaskan seluruh kejadian yang sebenarnya?
Demi menjawab dua pertanyaan terakhir saya tersebut, saya pun mencari video lengkapnya di yutub beberapa hari kemudian (yaitu hari ini, yang mana seharusnya hari ini saya fokus belajar untuk UAS besok, tapi karena saya sedang tidak fokus belajar, saya pun mencari kesibukan lain☹). Singkat cerita, saya melihat video lengkapnya di official channel dari stasiun teve tersebut. Dan, ternyata kelanjutan dari drama pengusiran yang telah saya tonton sebelumnya ialah.. si gadis dibawa oleh si pemandu acara ke sebuah ruangan yang saya kira ruangan itu merupakan ruangan ganti karena di dalam ruangan tersebut terdapat baju-baju cantik yang digantung berjajar di sebuah gantungan baju, kemudian ada juga sebuah meja rias yang diatasnya penuh dengan alat riasan dan pastinya sebuah cermin berukuran setengah badan orang dewasa dengan lampu-lampu bohlam yang mengelilingi tepiannya. Seorang perempuan cantik pun menunggu disana yang sepertinya ia memang diperintahkan untuk berada disana dan bertindak seolah-olah ia adalah malaikat yang siap mengubah penampilan si gadis yang sederhana itu menjadi bak bidadari. Dan setelah penampilan si gadis berubah menjadi lebih cantik dengan dress hitam, riasan wajah, dan juga dengan tatanan rambut yang lebih rapi, ia pun kembali ke ruangan audisi. Melihat perubahan penampilannya, para juri pun tampak senang dan memujinya lalu mempersilakan si gadis untuk memamerkan bakat bernyanyinya.
Selain video lengkap dari drama pengusiran tersebut, saya juga sempat menyaksikan video tanggapan dari seorang penyanyi professional yang merupakan jebolan dari salah satu ajang pencarian bakat bernyanyi pula. Penyanyi ini menanggapi bahwa, yang intinya, ia tak habis pikir akan sikap para juri tersebut. Menurutnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, khususnya bakat bernyanyi, tak semestinya juri mempermasalahkan penampilan peserta karena memang bukan itu fokusnya. Jika yang dicari memang bakat bernyanyi, ya seharusnya yang menjadi sorotan utamanya adalah kemampuan bernyanyi peserta, bukan penampilan fisik peserta.
Supaya lebih adil, saya pun memutar video yang berisi tanggapan dari salah satu juri, yang notabene pengecam paling keras akan penampilan fisik si gadis sehingga ia pun meneriman kecaman dari netizen. Juri ini mengatakan bahwa apa yang ia dan dua juri lainnya lakukan semata-mata merupakan gimmick. Kalau saya terjemahkan melalui google translate, gimmick dalam Bahasa Indonesia berarti tipu muslihat. Sang juri melanjutkan, yang ia lakukan dalam video drama pengusiran tersebut tak lepas dari arahan Tim Kreatif acara tersebut, ia hanya melaksanakan apa yang diperintahkan. Dengan kata lain, para juri tidak benar-benar bermaksud untuk menghina dan mengusir peserta tersebut, itu semua hanyalah sandiwara dan memang begitulah cara kerja ‘dunia hiburan’.
Setelah melihat beberapa video dari beberapa sudut pandang pula, saya menyimpulkan bahwa yang bersalah dalam kasus ini adalah netizen. Lahlohlahloh, kok bisa? Wkwkwk. Sebelum dihujat, saya jelaskan dulu. Dari mana ya menjelaskannya? Dari sisi netizen dulu lah. Jadi, saya tau kejadian ini setelah beritanya viral dan videonya tersebar dimana-dimana. (curhat : sebenernya saya agak bingung antara reaksi netizen dulu baru viral atau viral dulu baru reaksi netizen). Karena tau kalau netizen Indonesia sangat mudah terpancing dengan drama (murahan) seperti itu, beberapa oknum netizen pun memviralkan video tersebut dengan tambahan headline yang dilebih-lebihkan, entah untuk mencari simpati atau hanya sekadar menacari likes, comments dan shares. Netizen yang merasa simpatik terhadap si peserta yang diusir selanjutnya menghujat para juri yang mengusir. Tetapi kalau menurut saya, ada pihak lain yang dengan pintar memanfaatkan reaksi para netizen ini.
Siapa yang pintar disini? Yak benar, Tim Kreatif acara tersebut. Mereka tahu kalau acara mereka tidak akan lebih dikenal dengan cara-cara biasa. Akhirnya, mereka pun memberikan ‘bumbu’ dalam acara tersebut. Seperti yang telah dipaparkan oleh salah satu juri, Tim Kreatif tersebutlah yang mengarahkan mereka untuk melakukan drama pengusiran tersebut. Ketika drama tersebut viral, itu berarti acara mereka dibicarakan dimana-mana. Ketika acara tersebut telah dibicarakan dimana-mana, tujuan mereka telah tercapai, rating acara tersebut akan naik, and it means more money.
Dari sini bisa kita lihat betapa mudahnya netizen negeri kita terpancing dengan hal-hal sepele. Saya kira negeri kita memiliki lebih banyak masalah serius yang membutuhkan lebih banyak perhatian kita ketimbang drama juri yang seolah-olah mengusir seorang peserta ketika hendak melakukan audisi bernyanyi karena ia tak berpenampilan menarik. Pada akhirnya, tanpa sadar sikap kita ini bisa menjerumuskan kita sendiri. Pengguna media social di Indonesia ini termasuk terbanyak loh di dunia (coba liat di sini atau ini sekalian cek ini juga). Bayangin deh, kalo kebanyakan dari netizen kita merupakan netizen yang cerdas dan kritis sehingga media social bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berfaedah. Kalo media social di Indonesia banyak diisi dengan hal-hal positif bukan ngga mungkin kalo Indonesia bakal menjadi negara yang lebih baik dan lebih maju. Jadi, lebih bijak dalam menggunakan media sosial ya, kawan-kawan !
(dah ya saya mau belajar dulu, semoga besok ujiannya lancar, Aamiin)
Oke jadi saya pertama kali tau kasus ini—kalo bisa dibilang kasus—dari Instagram, gatau akun apa, saya lupa. Di video tersebut di kasih headline kurang lebih kek “ Peserta Ini Diusir Oleh Juri Karena Tidak Memakai Make Up Saat Hendak Audisi”. Di dalam video tersebut ditayangkan seorang gadis remaja usia belasan tahun yang masuk ruangan audisi dengan dandanan yang seadanya—kaos yang dilapisi jaket denim sebagai atasan, bawahan celana denim, rambut kuncir kuda dengan sebagian kecil helaian rambutnya tetap menjuntai bebas karena tidak dapat meraih karet kuncirnya, dan tanpa riasan muka sama sekali. Gadis itu mengaku berasal dari sebuah desa dan ketika ditanya oleh juri mengenai alasan dia tidak melakukan ‘usaha’ terhadap penampilannya seperti peserta audisi lain—kata sang juri—gadis itu mengatakan bahwa bajunya tertinggal di desa. Dengan nada yang kurang mengenakkan, juri lain menimpali dengan mempertanyakan keseriusan gadis ini untuk mengikuti audisi ajang pencarian bakat tersebut. Akhirnya, juri yang lainnya lagi memutuskan agar audisi si gadis ditunda hingga ia mengganti penampilannya. Kamera pun menyorot wajah kecewa si gadis—which I understand how it felt to be threaten that way. Sebelum video berakhir, si pemandu acara datang menghampiri si gadis dengan bahasa tubuh ‘seolah-olah’ menenangkan si gadis dan video pun berakhir.
Setelah melihat video berdurasi kurang lebih satu menit tersebut, terdapat beberapa hal yang muncul dalam benak saya. Yang pertama, “wew, nih juri sadis juga”. Yang kedua, para juri tersebut merupakan penyanyi professional yang cukup terkenal di Indonesia, bahkan mungkin sangat terkenal, yang sudah lama merajut karir bernyanyi di negeri kita tercinta ini sehingga saya kira mereka cukup pintar untuk tidak serta merta ‘bermaksud’ melakukan hal konyol seperti dalam video tersebut, apalagi di sebuah acara yang ditayangkan di saluran teve nasional. Dan yang terakhir, Video tersebut berdurasi tak lebih dari satu menit, (setau saya maksimal video yang bisa diunggah di di instagram hanya satu menit) apakah satu menit cukup untuk menjelaskan seluruh kejadian yang sebenarnya?
Demi menjawab dua pertanyaan terakhir saya tersebut, saya pun mencari video lengkapnya di yutub beberapa hari kemudian (yaitu hari ini, yang mana seharusnya hari ini saya fokus belajar untuk UAS besok, tapi karena saya sedang tidak fokus belajar, saya pun mencari kesibukan lain☹). Singkat cerita, saya melihat video lengkapnya di official channel dari stasiun teve tersebut. Dan, ternyata kelanjutan dari drama pengusiran yang telah saya tonton sebelumnya ialah.. si gadis dibawa oleh si pemandu acara ke sebuah ruangan yang saya kira ruangan itu merupakan ruangan ganti karena di dalam ruangan tersebut terdapat baju-baju cantik yang digantung berjajar di sebuah gantungan baju, kemudian ada juga sebuah meja rias yang diatasnya penuh dengan alat riasan dan pastinya sebuah cermin berukuran setengah badan orang dewasa dengan lampu-lampu bohlam yang mengelilingi tepiannya. Seorang perempuan cantik pun menunggu disana yang sepertinya ia memang diperintahkan untuk berada disana dan bertindak seolah-olah ia adalah malaikat yang siap mengubah penampilan si gadis yang sederhana itu menjadi bak bidadari. Dan setelah penampilan si gadis berubah menjadi lebih cantik dengan dress hitam, riasan wajah, dan juga dengan tatanan rambut yang lebih rapi, ia pun kembali ke ruangan audisi. Melihat perubahan penampilannya, para juri pun tampak senang dan memujinya lalu mempersilakan si gadis untuk memamerkan bakat bernyanyinya.
Selain video lengkap dari drama pengusiran tersebut, saya juga sempat menyaksikan video tanggapan dari seorang penyanyi professional yang merupakan jebolan dari salah satu ajang pencarian bakat bernyanyi pula. Penyanyi ini menanggapi bahwa, yang intinya, ia tak habis pikir akan sikap para juri tersebut. Menurutnya dalam sebuah ajang pencarian bakat, khususnya bakat bernyanyi, tak semestinya juri mempermasalahkan penampilan peserta karena memang bukan itu fokusnya. Jika yang dicari memang bakat bernyanyi, ya seharusnya yang menjadi sorotan utamanya adalah kemampuan bernyanyi peserta, bukan penampilan fisik peserta.
Supaya lebih adil, saya pun memutar video yang berisi tanggapan dari salah satu juri, yang notabene pengecam paling keras akan penampilan fisik si gadis sehingga ia pun meneriman kecaman dari netizen. Juri ini mengatakan bahwa apa yang ia dan dua juri lainnya lakukan semata-mata merupakan gimmick. Kalau saya terjemahkan melalui google translate, gimmick dalam Bahasa Indonesia berarti tipu muslihat. Sang juri melanjutkan, yang ia lakukan dalam video drama pengusiran tersebut tak lepas dari arahan Tim Kreatif acara tersebut, ia hanya melaksanakan apa yang diperintahkan. Dengan kata lain, para juri tidak benar-benar bermaksud untuk menghina dan mengusir peserta tersebut, itu semua hanyalah sandiwara dan memang begitulah cara kerja ‘dunia hiburan’.
Setelah melihat beberapa video dari beberapa sudut pandang pula, saya menyimpulkan bahwa yang bersalah dalam kasus ini adalah netizen. Lahlohlahloh, kok bisa? Wkwkwk. Sebelum dihujat, saya jelaskan dulu. Dari mana ya menjelaskannya? Dari sisi netizen dulu lah. Jadi, saya tau kejadian ini setelah beritanya viral dan videonya tersebar dimana-dimana. (curhat : sebenernya saya agak bingung antara reaksi netizen dulu baru viral atau viral dulu baru reaksi netizen). Karena tau kalau netizen Indonesia sangat mudah terpancing dengan drama (murahan) seperti itu, beberapa oknum netizen pun memviralkan video tersebut dengan tambahan headline yang dilebih-lebihkan, entah untuk mencari simpati atau hanya sekadar menacari likes, comments dan shares. Netizen yang merasa simpatik terhadap si peserta yang diusir selanjutnya menghujat para juri yang mengusir. Tetapi kalau menurut saya, ada pihak lain yang dengan pintar memanfaatkan reaksi para netizen ini.
Siapa yang pintar disini? Yak benar, Tim Kreatif acara tersebut. Mereka tahu kalau acara mereka tidak akan lebih dikenal dengan cara-cara biasa. Akhirnya, mereka pun memberikan ‘bumbu’ dalam acara tersebut. Seperti yang telah dipaparkan oleh salah satu juri, Tim Kreatif tersebutlah yang mengarahkan mereka untuk melakukan drama pengusiran tersebut. Ketika drama tersebut viral, itu berarti acara mereka dibicarakan dimana-mana. Ketika acara tersebut telah dibicarakan dimana-mana, tujuan mereka telah tercapai, rating acara tersebut akan naik, and it means more money.
Dari sini bisa kita lihat betapa mudahnya netizen negeri kita terpancing dengan hal-hal sepele. Saya kira negeri kita memiliki lebih banyak masalah serius yang membutuhkan lebih banyak perhatian kita ketimbang drama juri yang seolah-olah mengusir seorang peserta ketika hendak melakukan audisi bernyanyi karena ia tak berpenampilan menarik. Pada akhirnya, tanpa sadar sikap kita ini bisa menjerumuskan kita sendiri. Pengguna media social di Indonesia ini termasuk terbanyak loh di dunia (coba liat di sini atau ini sekalian cek ini juga). Bayangin deh, kalo kebanyakan dari netizen kita merupakan netizen yang cerdas dan kritis sehingga media social bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berfaedah. Kalo media social di Indonesia banyak diisi dengan hal-hal positif bukan ngga mungkin kalo Indonesia bakal menjadi negara yang lebih baik dan lebih maju. Jadi, lebih bijak dalam menggunakan media sosial ya, kawan-kawan !
(dah ya saya mau belajar dulu, semoga besok ujiannya lancar, Aamiin)
Komentar
Posting Komentar